Mengapa Sulit Mengajak dalam Pembiasaan Ibadah di Madrasah?/Ihsanuddin


Di lingkungan madrasah, salah satu program penting yang dicanangkan adalah pembiasaan ibadah, seperti shalat duha, shalat dzuhur berjamaah, shalat ashar berjamaah, dan membaca Al-Qur’an. Tujuan dan manfaatnya sudah jelas: membentuk karakter religius, menanamkan kedisiplinan, melatih kebersamaan, serta menumbuhkan rasa cinta kepada ibadah sejak dini. Namun, dalam praktiknya, tidak jarang muncul tantangan yang membuat program ini terasa sulit dijalankan secara konsisten.

1. Faktor Internal Guru dan Karyawan

Tidak semua guru memiliki semangat yang sama dalam mendampingi siswa. Ada yang merasa program ibadah ini “tambahan tugas” di luar jam mengajar. Ada pula yang kurang menyadari bahwa keteladanan justru lebih efektif dibandingkan instruksi. Padahal, keberhasilan pembiasaan sangat ditentukan oleh konsistensi dan kehadiran guru sebagai role model.

2. Budaya Disiplin yang Belum Tertanam

Pembiasaan ibadah memerlukan kebiasaan bersama yang berulang-ulang. Jika belum ada budaya kolektif yang kuat, maka sebagian siswa akan mengikuti, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai beban. Ketika guru pun kurang hadir atau mendampingi, siswa menjadi semakin longgar.

3. Kurangnya Rasa Tanggung Jawab Kolektif

Sebagian guru mungkin berpikir bahwa pembiasaan ibadah adalah urusan guru agama atau pembina rohis. Padahal, sejatinya ini adalah tanggung jawab bersama seluruh unsur madrasah. Sikap saling lepas tangan inilah yang membuat program tidak berjalan optimal.

4. Resistensi terhadap Perubahan

Tidak semua orang siap menerima tambahan rutinitas baru. Perubahan pola dari “mengajar di kelas” menuju “mendampingi pembiasaan” memerlukan penyesuaian mental. Inilah yang sering menimbulkan penolakan diam-diam atau sekadar formalitas.

Haruskah Ditindak dengan Kewenangan Pimpinan?

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: apakah pimpinan harus menindak tegas? Bahkan sampai pada opsi mutasi bagi yang tidak mampu menjalankan program?

Sebelum sampai pada tindakan keras, ada baiknya dilakukan beberapa langkah:

  1. Penguatan Kesadaran – guru dan karyawan perlu diingatkan kembali bahwa pembiasaan ibadah adalah bagian dari misi madrasah, bukan sekadar tambahan tugas.

  2. Keteladanan Pimpinan – kepala madrasah dan pimpinan lain perlu tampil paling depan dalam setiap kegiatan ibadah, sehingga menjadi teladan nyata.

  3. Pembagian Tugas yang Jelas – buat jadwal piket, pembagian tanggung jawab, dan monitoring yang transparan agar tidak ada pihak yang merasa terbebani sendiri.

  4. Evaluasi dan Pembinaan – berikan ruang diskusi, teguran yang humanis, dan pembinaan berjenjang sebelum sampai pada sanksi formal.

Namun, jika setelah pembinaan berulang kali tetap tidak ada perubahan, pimpinan memang berhak menggunakan kewenangan. Bukan semata untuk menghukum, melainkan untuk menjaga marwah program dan kebaikan bersama.

Penutup

Membiasakan siswa untuk beribadah bukan hanya tugas guru agama, melainkan misi kolektif seluruh warga madrasah. Jika ada yang masih merasa berat, sebenarnya bukan karena tujuannya yang tidak jelas, melainkan karena kesadaran dan kedisiplinan yang belum sepenuhnya tertanam. Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak cukup hanya dengan aturan, tetapi juga dengan keteladanan, konsistensi, dan kebersamaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Siswa MTsN 10 Jember Lolos Olimpiade Madrasah Indonesia ke Tingkat Provinsi

“Kurikulum Berbasis Cinta: Jangan Direduksi Menjadi Sekadar Administrasi” - diambil dari WA group oleh Bapak Zurni ( pokjawas Nasional)