Postingan

Membuat mini fiksi ( saat ikut LIGA 2025)

"Gol Terakhir Dawi" Urutan Ide 1. Tokoh Dawi: siswa madrasah, pendiam tapi penuh semangat. Siti Habibiyah: guru pembimbing, anggota IGINOS (Ikatan Guru Inovator dan Penggerak Literasi Nasional). Tim siswa madrasah lain sebagai lawan tanding. 2. Seting Lokasi Stadion kecil kota Jember, tempat berlangsungnya Liga Literasi 2025 — liga unik yang memadukan olahraga dengan tantangan literasi. 3. Konflik Tim madrasah Dawi ketinggalan skor. Selain fisik, ada ujian literasi yang harus dijawab cepat. Dawi dianggap lemah oleh teman setimnya, ragu untuk memberi peran penting. 4. Ending Mengejutkan Di menit terakhir, bola berada di kaki Dawi. Ia bukan hanya menendang bola, tapi juga berhasil menjawab soal literasi yang muncul di layar stadion tepat saat ia menendang. Gol masuk, jawaban benar, poin ganda! Namun ketika semua bersorak, Siti Habibiyah mendapati Dawi justru pingsan karena kelelahan. Saat dibangunkan, Dawi tersenyum dan berbisik: "Bu, saya tidak main untuk menang… saya mai...

Penulis Pemula Belajar Berliterasi by Irnanda Dina

Gambar
Setiap insan tak lepas dari rasa was-was dan keraguan sebelum bertindak dalam melakukan, membuat bahkan menggunakan sesuatu tetapi perlu dicoba atau mencoba untuk belajar tampil percaya diri terhadap apa yang akan dilakukan. Salah satunya adalah belajar menulis.  Menulis merupakan hal yang sangat mudah Coretan pena wujud inspirasi diri kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan selesai. Kenyataan yang ada menulis seakan beban mental, menjadi momok yang besar. Rasa takut salah, hasil jelek, membingungkan dan sebagainya sehingga rasa malas selalu menghantui diri untuk mewujudkan karya walau hanya sedikit rangkaian kata yang dihasilkan. Apalagi terutama yang lintas bidang keahlian alias jurusan studi yang tidak mendukung sangatlah ragu seakan tak mampu untuk merangkaikan kata.  Alhasil kuat dukungan adanya literasi dihadapan saya, saya berusaha menjadi penulis pemula untuk ikut belajar berliterasi. Sebagai penulis pemula pastinya banyak hal terutama kebah...

Penguatan Peran Komite Madrasah /Ihsanuddin

Gambar
Hotel Harris Surabaya — Kegiatan Penguatan Peran Komite Madrasah digelar pada Rabu–Kamis, 24–25 September 2025 bertempat di Harris Hotel Gubeng, Surabaya. Acara ini diikuti oleh para kepala madrasah serta ketua komite madrasah dari seluruh Jawa Timur, termasuk dari MTsN 10 Jember yang dihadiri langsung oleh Kepala Madrasah, Ihsanuddin, S.Pd. M.Pd bersama Ketua Komite MTsN 10 Jember, Bapak Bahrul Ulum, S.H., M.Pd. Kegiatan ini dibuka dengan sambutan sekaligus pengarahan oleh Bapak Sugiyo yang menekankan pentingnya peran strategis komite dalam mendukung kemajuan madrasah. Selanjutnya, hadir pula Bapak Dr. Rahman, S.H. dari Kejaksaan Tinggi Jawa Timur yang memberikan materi tentang aspek hukum, khususnya terkait pengelolaan dana masyarakat agar berjalan sesuai ketentuan, transparan, dan akuntabel. Ketua Panitia, Bapak Samsul (Katim Kelembagaan), menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan: 1. Menyegarkan kembali pemahaman tentang peran komite madrasah sebagaimana diatur dalam PMA 16 Tahun 2...

Renungan Hari Ini ( Rabu, 24 September 2025)

Hari ini saya mendapat kabar bahwa tim riset dari MTsN 10 Jember belum berhasil lolos dalam lomba OMI Riset. Tentu ada sedikit rasa kecewa, tetapi saya mencoba melihatnya dari sisi lain. Sejak awal kita semua sudah memahami bahwa persiapan kali ini sangat minim, sehingga hasilnya pun belum sesuai harapan. Namun, kegagalan bukanlah akhir. Justru di situlah letak pelajaran berharga. Saya sampaikan kepada tim bahwa pengalaman ini adalah langkah awal untuk belajar lebih serius dan lebih terarah. Tahun depan, insyaAllah kita bisa kembali dengan persiapan yang lebih matang. Dari sini, saya semakin yakin bahwa madrasah perlu memiliki kegiatan ekstrakurikuler berupa Club Riset. Wadah ini akan menjadi ruang bagi siswa untuk terus berlatih, bereksperimen, dan menumbuhkan budaya riset sejak dini. Dengan demikian, mereka tidak hanya siap untuk lomba, tetapi juga terbiasa berpikir kritis, kreatif, dan ilmiah dalam keseharian. Gagal sekali bukan berarti kalah selamanya. Setiap langkah adalah proses,...

“Kurikulum Berbasis Cinta: Jangan Direduksi Menjadi Sekadar Administrasi” - diambil dari WA group oleh Bapak Zurni ( pokjawas Nasional)

Hanya sekedar saling mengingatkan saja supaya tidak terjadi miskonsepsi tentang implementasi kbc yg seharusnya dibahas secara komprehensip. Tp ada bbrp di lapangan hanya fokus pada bagaimana menginsersi atau memgintegrasikan kbc dlm modul ajar.  Untuk itu, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) tidak boleh direduksi hanya pada urusan teknis pembelajaran seperti RPP, modul ajar apakah value kbc diinsersi atau terintegrasi, atau sekadar metode mengajar. Tapi harus dipahami sebagai roh transformasi pendidikan yang bergerak secara holistik pada lima aspek yang menjadi ekosistem pendidikan yaitu: 1. Kepemimpinan yang welas asih → Kepala madrasah, guru senior, bahkan pengawas harus menjadi teladan cinta. Mereka bukan sekadar pengendali administrasi, tapi inspirator yang menghadirkan kasih, empati, dan keadilan dalam setiap keputusan. 2. Budaya/Iklim Madrasah yang inklusif → Madrasah bukan ruang eksklusif, tapi rumah bersama. Setiap murid, tanpa membedakan latar belakang, merasa aman, diterima, dan d...

Mengapa Sulit Mengajak dalam Pembiasaan Ibadah di Madrasah?/Ihsanuddin

Gambar
Di lingkungan madrasah, salah satu program penting yang dicanangkan adalah pembiasaan ibadah, seperti shalat duha, shalat dzuhur berjamaah, shalat ashar berjamaah, dan membaca Al-Qur’an . Tujuan dan manfaatnya sudah jelas: membentuk karakter religius, menanamkan kedisiplinan, melatih kebersamaan, serta menumbuhkan rasa cinta kepada ibadah sejak dini. Namun, dalam praktiknya, tidak jarang muncul tantangan yang membuat program ini terasa sulit dijalankan secara konsisten. 1. Faktor Internal Guru dan Karyawan Tidak semua guru memiliki semangat yang sama dalam mendampingi siswa. Ada yang merasa program ibadah ini “tambahan tugas” di luar jam mengajar. Ada pula yang kurang menyadari bahwa keteladanan justru lebih efektif dibandingkan instruksi. Padahal, keberhasilan pembiasaan sangat ditentukan oleh konsistensi dan kehadiran guru sebagai role model . 2. Budaya Disiplin yang Belum Tertanam Pembiasaan ibadah memerlukan kebiasaan bersama yang berulang-ulang. Jika belum ada budaya kolektif...

Cerita adaptasi dari Pak Ismoyo seorang trainer dan inspirator kbc tentang implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dengan tema kegenitan intelektual

Gambar
Kisah inspiratif (adaptasi dari pak Ismoyo, seorang:trainer dan inspirator kbc) menggambarkan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada pilar pancacinta ilmu, diri sendiri, dan sesama manusia dengan tema *kegenitan intelektual* "Pelajaran dari Balik Panggung" Di sebuah pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta, para peserta duduk bersila di lantai antusias menanti sesi berbagi pengalaman. Ruangan itu hangat, dipenuhi wajah penuh harap. Di depan, seorang trainer yang dikenal "paling keren" berdiri penuh percaya diri. Jasnya rapi, sepatu mengilap, tutur katanya lancar, dan ia tak segan menyebut daftar panjang capaian dan prestasinya. > "Saya sudah melatih di banyak tempat. Pendekatan saya sudah dipakai di berbagai lembaga," ujarnya dengan senyum yang sedikit mengundang tepuk tangan. Dalam hatinya, ia merasa: Tak ada yang lebih paham KBC daripada saya. Di barisan belakang, duduk seorang pria sederhana. Kemejanya polos, wajahnya biasa saja. Banyak yang bahk...