Membuat mini fiksi ( saat ikut LIGA 2025)

"Gol Terakhir Dawi"


Urutan Ide


1. Tokoh

Dawi: siswa madrasah, pendiam tapi penuh semangat.

Siti Habibiyah: guru pembimbing, anggota IGINOS (Ikatan Guru Inovator dan Penggerak Literasi Nasional).

Tim siswa madrasah lain sebagai lawan tanding.

2. Seting Lokasi

Stadion kecil kota Jember, tempat berlangsungnya Liga Literasi 2025 — liga unik yang memadukan olahraga dengan tantangan literasi.

3. Konflik

Tim madrasah Dawi ketinggalan skor.

Selain fisik, ada ujian literasi yang harus dijawab cepat.

Dawi dianggap lemah oleh teman setimnya, ragu untuk memberi peran penting.

4. Ending Mengejutkan

Di menit terakhir, bola berada di kaki Dawi.

Ia bukan hanya menendang bola, tapi juga berhasil menjawab soal literasi yang muncul di layar stadion tepat saat ia menendang.

Gol masuk, jawaban benar, poin ganda!

Namun ketika semua bersorak, Siti Habibiyah mendapati Dawi justru pingsan karena kelelahan.

Saat dibangunkan, Dawi tersenyum dan berbisik: "Bu, saya tidak main untuk menang… saya main untuk membuktikan bahwa anak madrasah juga bisa hebat."

------------------------------------

Naskah Fiksi Mini 


Liga Literasi 2025 baru saja dimulai di stadion kecil Jember. Sorak penonton menggema, bendera madrasah berkibar. Di balik keramaian itu, seorang anak kurus bernama Dawi duduk gelisah di bangku cadangan.


"Percayalah, Dawi," ujar Siti Habibiyah, gurunya yang selalu menyemangati. "IGINOS ingin kita buktikan bahwa literasi bisa hidup di mana saja, bahkan di lapangan bola."


Babak demi babak berlangsung. Tim madrasah mereka tertinggal jauh. Saat itu, aturan unik liga diumumkan: gol hanya sah jika pemain juga menjawab soal literasi di layar digital. Satu pemain sudah gagal, dua lainnya tertekan.


Di menit terakhir, bola menggelinding ke kaki Dawi. Semua terdiam. Anak yang sering diejek lamban itu kini jadi tumpuan. Sorot layar stadion menampilkan soal literasi: "Siapakah penulis novel Laskar Pelangi?"


Dawi menendang bola sambil berteriak lantang: "Andrea Hirata!"


Bola menembus gawang lawan, skor jadi seimbang, dan jawaban benar memberi poin tambahan. Sorak penonton membahana.


Namun, kebahagiaan itu hanya sesaat. Tubuh Dawi jatuh lemas di tengah lapangan. Siti Habibiyah berlari panik, menggenggam tangannya.


Dalam nafas tersengal, Dawi tersenyum: "Bu, saya tidak main untuk menang… saya main untuk membuktikan anak madrasah bisa hebat."


Dan sorak penonton berubah jadi tepuk tangan yang tak henti, bukan untuk kemenangan, tapi untuk keberanian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Siswa MTsN 10 Jember Lolos Olimpiade Madrasah Indonesia ke Tingkat Provinsi

Mengapa Sulit Mengajak dalam Pembiasaan Ibadah di Madrasah?/Ihsanuddin

“Kurikulum Berbasis Cinta: Jangan Direduksi Menjadi Sekadar Administrasi” - diambil dari WA group oleh Bapak Zurni ( pokjawas Nasional)